Prompt AI
Contoh Prompt AI untuk Marketing: 8 Template Siap Pakai
Prompt "buatkan caption Instagram yang menarik" hasilnya selalu generik — karena AI nggak tau bisnis kamu, audiens kamu, atau apa yang mau kamu jual. Saya jalanin marketing 2 brand (Kuy Studio dan Servisin Kuy), dan prompt yang beneran kepakai bukan yang pendek, tapi yang penuh konteks.
Di bawah ini 8 prompt yang saya pakai harian, sudah saya rapikan jadi template. Ganti bagian dalam [kurung] dengan data bisnismu, langsung tempel ke ChatGPT, Claude, atau Gemini.
Aturan main: kasih konteks dulu, baru perintah
Sebelum prompt apa pun, kasih AI "kartu bisnis" kamu sekali di awal chat. Ini yang bikin output beda jauh:
Kamu marketer untuk [nama bisnis], [jenis usaha] di [kota]. Target pasar saya [siapa, umur, situasinya]. Yang mereka takutin/butuhin: [masalah utama]. Tone brand saya: [santai/profesional/dll]. Yang saya jual: [produk + harga kasarnya]. Ingat ini untuk semua jawaban berikutnya.
Sekali konteks ini ada, semua prompt setelahnya jadi tajam. Pola lengkap kenapa ini penting saya bahas di cara menulis prompt ChatGPT untuk bisnis.
1. Prompt cari angle konten
Bukan minta "ide konten" — minta angle yang punya sudut pandang.
Kasih saya 10 angle konten untuk [produk]. Setiap angle harus nyerang satu keberatan atau ketakutan spesifik dari [target pasar]. Format: judul hook + 1 kalimat kenapa angle ini nyangkut. Jangan generik, jangan motivasi kosong.
Dari 10, biasanya cuma 2-3 yang layak. Itu normal — gunanya AI di sini ngapus halaman kosong, keputusan tetap di kamu.
2. Prompt bikin caption (yang nggak kaku)
Tulis 3 versi caption Instagram untuk [topik/foto]. Versi A: hook penasaran. Versi B: cerita singkat. Versi C: to-the-point + CTA. Pakai tone [brand kamu], maksimal 5 baris, bahasa sehari-hari, hindari kata "di era digital". Akhiri tiap versi dengan satu CTA yang jelas.
Kunci kualitasnya ada di "3 versi" dan "tone spesifik". Sekali nemu versi yang pas, simpan jadi template — itu jadi voice brand kamu.
3. Prompt script video pendek
Buat script Reel 30 detik untuk [produk/promo]. Struktur: hook 3 detik pertama (bikin orang berhenti scroll) + isi (1 manfaat konkret) + CTA. Tulis dalam bahasa ngomong, bukan bahasa baku. Sertakan teks on-screen per scene.
Untuk produksi visual dan video-nya, tools-nya saya kelompokin terpisah di tools AI untuk marketing.
4. Prompt variasi A/B
Jangan bikin satu konten lalu berharap nyangkut. Minta variannya sekaligus.
Ambil caption ini: [tempel caption]. Buat 4 variasi untuk dites: (1) ganti hook, (2) ganti CTA, (3) versi lebih pendek, (4) versi yang nyebut harga di depan. Pertahankan inti pesannya.
5. Prompt analisa komentar & DM
Ini bagian yang paling sering dilewatin, padahal paling berharga.
Ini kumpulan komentar/DM dari postingan terakhir saya: [tempel]. Rangkum: (1) pertanyaan yang paling sering muncul, (2) keberatan utama sebelum beli, (3) kata-kata persis yang pelanggan pakai. Lalu kasih 3 ide konten yang menjawab temuan itu.
Output-nya emas: AI ngasih balik bahasa asli pelanggan, yang bisa langsung kamu pakai jadi hook konten berikutnya.
6. Prompt baca performa konten
Setiap minggu saya minta AI baca data konten — tapi yang bener-bener nentuin, bukan likes.
Ini data 10 postingan terakhir saya (judul, save, share, like, reach): [tempel]. Urutkan berdasarkan save dan share, bukan like. Cari pola: format apa, topik apa, jam berapa yang paling banyak di-save. Kasih 3 rekomendasi konkret untuk minggu depan.
Save dan share itu sinyal niat, like itu vanity. Disiplin baca data ini yang bikin produksi konten berhenti nebak-nebak.
7. Prompt balas DM cepat tanpa kaku
Buat 5 template balasan DM untuk pertanyaan berulang: harga, lokasi, jadwal, cara booking, dan stok. Maksimal 3 baris per balasan, ramah, dan selalu tutup dengan pertanyaan yang mancing lanjut chat.
Buat usaha kecil, kecepatan balas DM sering lebih nentuin closing daripada kontennya — saya bahas ini di AI untuk marketing UMKM.
8. Prompt kalender konten seminggu
Susun kalender konten 7 hari untuk [bisnis]. Setiap hari: 1 ide + format (Reel/carousel/story) + hook + CTA. Seimbangin antara edukasi, soft-selling, dan behind-the-scene. Jangan jualan terus-terusan.
Cara bikin prompt-mu makin tajam
Tiga kebiasaan yang ngangkat kualitas output, dari pengalaman saya:
- Kasih contoh. Tempel 1-2 caption lama yang performanya bagus, suruh AI tiru gayanya. Ini lompatan kualitas paling cepat.
- Minta AI nanya balik. Tambahin "tanya saya dulu kalau ada info yang kurang sebelum menjawab." Hasilnya jauh lebih nyambung.
- Jaga data sensitif. Dari background Certified Ethical Hacker: jangan tempel angka rahasia atau data pelanggan utuh ke prompt sembarangan. Kasih AI cuma yang dia butuh.
Mulai dari satu prompt yang paling sering bikin kamu mandek — biasanya caption atau analisa komentar. Pakai harian sampai jadi refleks, baru tambah yang lain. "Sistem dulu, baru scale."
Kalau mau lihat prompt-prompt ini disambungin jadi satu alur kerja marketing yang otomatis — dari ide, konten, sampai baca data — itu yang saya bongkar langkah demi langkah di AI CEO Blueprint.